Setelah kejatuhan Ambon
ke tangan Ternate dalam perang Ternate – Portugis yang pertama,
Portugis terpaksa memohon damai kepada sultan Khairun yang kemudian
disambut dengan itikad baik. Semua hak-hak istimewa Portugis menyangkut
monopoli perdagangan rempah-rempah dihilangkan namun mereka tetap
diperbolehkan untuk berdagang dan bersaing dengan pedagang nusantara
serta pedagang asing lainnya secara bebas. Rupanya permohonan damai
Portugis itu hanya kedok untuk mengulur waktu demi mengkonsolidasikan
kembali kekuatan mereka, menunggu waktu yang tepat untuk membalas
Ternate.
Dengan dalih ingin membicarakan dan merayakan hubungan Ternate – Portugis yang membaik, gubernur Portugis Lopez De Mesquita
(1566-1570) mengundang sultan Khairun ke benteng Sao Paulo tanggal 25
Februari 1570 untuk jamuan makan. Sang sultan memenuhi undangan itu dan
datang tanpa pengawal, tak dinyana setibanya di benteng ia dibunuh atas
perintah De Mesquita. De Mesquita beranggapan dengan mengenyahkan sultan
Khairun, Maluku akan kehilangan pemimpin hebat dan segera tercerai
berai, akan tetapi ia lupa bahwa sultan Khairun memiliki pewaris –
pewaris yang hebat terutama dalam diri pangeran Baabullah.
No comments:
Post a Comment