Sultan Baabullah menyambut para tamu dengan upacara kebesaran dan
jamuan istimewa. Laporan Francis Drake seperti yang dimuat Willard A.
Hanna dan Des Alwi dalam buku mereka (
Ternate dan Tidore masa lalu penuh gejolak, hal 96-97) menggambarkan suasana pertemuan itu ;
- “Sementara orang-orang kami menunggu kedatangan sultan yang akan
datang kira-kira setengah jam lagi, mereka mendapat kesempatan lebih
baik untuk mengamati semua itu; juga sebelum kedatangan sultan sudah ada
tiga baris tokoh bangsawan tua, yang konon semuanya adalah penasihat
pribadi raja; di ujung rumah ditempatkan sekelompok orang muda,
berpakaian dan berpenampilan anggun. Di luar rumah, di sebelah kanan,
berdiri empat orang dengan rambut ubanan, semuanya berpakaian jubah
merah panjang sampai ke tanah, tetapi penutup kepalanya tidak jauh
berbeda dari orang Turki; mereka ini disebut orang Rum (Romawi/Eropa),
atau orang asing, yang ada disana sebagai perantara untuk tetap
memelihara perdagangan dengan bangsa ini: mereka adalah dua orang Turki,
satu orang Italia sebagai perantara dan yang terakhir seorang Spanyol,
yang dibebaskan oleh sultan dari tangan orang Portugis dalam perebutan
kembali pulau itu, dan berhenti sebagai serdadu untuk mengabdi kepada
sultan.
- Sultan akhirnya datang dari benteng, dengan 8 atau 10 senator
yang mengikuti dia, dinaungi payung yang sangat mewah (dengan hiasan
emas timbul di tengahnya), dan dijaga dengan 12 tombak yang matanya
diarahkan ke bawah: orang kami (disertai saudara sultan), bangun untuk
menemui dia, dan ia dengan sangat ramah menyambut dan berbasa – basi
dengan mereka. Seperti telah kami gambarkan sebelumnya, ia bersuara
lirih, bicaranya halus, dengan keanggunan sikap seorang sultan, dan
seorang dari bangsanya. Pakaiannya menurut mode penduduk lain dari
negerinya, tetapi jauh lebih mewah, sebagaimana dituntut oleh keberadaan
dan statusnya; dari pinggang ke tanah ia mengenakan kain bersulam emas,
sepatu dari beludru berwarna merah; hiasan kepalanya bertatahkan
berbagai cincin berlapis emas, selebar satu atau satu setengah inci,
yang membuatnya indah dan agung dipandang, mirip seperti mahkota; di
lehernya ia mengenakan kalung rantai dari emas murni yang mata rantainya
besar sekali dan satu rangkaian rangkap; di tangan kirinya terdapat
Intan, batu Zamrud, batu Merah Delima dan batu Pirus, 4 batu permata
yang sangat indah dan sempurna; di tangan kanannya; pada satu cincin
terdapat satu batu Pirus besar dan sempurna, dan pada cincin lain
terdapat banyak Intan berukuran lebih kecil, yang ditatahkan dengan
sangat indah.
- Demikianlah ia duduk di atas tahta kerajaannya, dan di sebelah
kanan berdiri seorang pelayan dengan sebuah kipas sangat mahal (tersulam
dengan kaya dan terhias dengan batu nilam). Ia mengipas dan
mengumpulkan udara untuk menyejukkan sultan, karena tempatnya panas
sekali, baik oleh sinar matahari maupun kumpulan begitu banyak orang.
Sesudah beberapa waktu, setelah para tuan menyampaikan pesan mereka, dan
memperoleh jawaban, mereka diizinkan untuk pamit, dan dengan selamat di
antara kembali oleh salah satu ketua Dewan Sultan, yang ditugaskan oleh
sultan sendiri untuk melakukan hal itu.”
No comments:
Post a Comment