Dengan kepergian orang Portugis,
Sultan Baabullah menjadikan benteng Sao Paulo sebagai benteng sekaligus
istana, ia merenovasi dan memperkuat benteng tersebut kemudian mengubah
namanya menjadi benteng Gamalama. Sultan Baabullah masih melanjutkan hubungan dagang dengan bangsa barat termasuk Portugis dan mengizinkan mereka menetap di Tidore,
akan tetapi tanpa pemberian hak istimewa, para pedagang barat
diperlakukan sama dengan pedagang – pedagang dari negeri lain dan mereka
tetap diawasi dengan ketat. Sultan Baabullah bahkan mengeluarkan
peraturan yang mewajibkan setiap bangsa Eropa yang tiba di Ternate untuk
melepaskan topi dan sepatu mereka, sekedar untuk mengingatkan mereka
agar tidak lupa diri.
Sultan Baabullah tetap memelihara persekutuan yang telah terbentuk
dan sering mengadakan kunjungan ke wilayah – wilayah yang mendukung
Ternate dan menuntut kesetiaan mereka terhadap persekutuan yang
dipimpinnya. Tahun 1580 Sultan Baabullah mengunjungi Makassar dan mengadakan pertemuan dengan raja Gowa Tunijallo, mengajaknya masuk Islam dan ikut serta dalam persekutuan melawan Portugis dan Spanyol.
Sang raja tak langsung menyutujui ajakan Sultan untuk memeluk Islam
namun setuju untuk ikut dalam persekutuan kemudian sebagai tanda
persahabatan Sultan Baabullah menghadiahkan pulau Selayar kepada Raja
Gowa.
Dibawah pimpinan Sultan Baabullah, Ternate mencapai puncak kejayaan, wilayah kekuasaan dan pengaruhnya membentang dari Sulawesi Utara, tengah dan timur di bagian barat hingga kepulauan Marshall dibagian timur, dari Filipina (Selatan) di bagian utara hingga sejauh kepulauan Kai dan Nusa Tenggara dibagian selatan. Tiap wilayah atau daerah ditempatkan wakil – wakil sultan atau yang disebut Sangaji. Sultan Baabullah dijuluki “penguasa 72 negeri” yang semuanya memiliki raja yang tunduk kepadanya (sejarawan Belanda, Valentijn menuturkan secara rinci nama-nama ke-72 negeri tersebut) hingga menjadikan kesultanan Ternate sebagai kerajaan Islam terbesar di Indonesia timur.
Sultan Baab tetap melanjutkan kebijakan ayahnya dengan menjalin persekutuan dengan Aceh dan Demak untuk mengenyahkan Portugis
dari Nusantara. Persekutuan Aceh – Demak – Ternate ini merupakan simbol
persatuan nusantara karena ketiganya sebagai yang terbesar dan terkuat
di masa itu merangkai wilayah barat. tengah dan timur nusantara dalam
satu ikatan persaudaraan, mewujudkan kembali persatuan nusantara sejak
keruntuhan Majapahit.
No comments:
Post a Comment